Kamis, Desember 31, 2009

Penjual Terompet Menjamur di Jakut

JAKARTA, MP - Sehari menjelang perayaan tahun baru, pedagang terompet musiman mulai menjamur di Jakarta Utara. Berbagai jenis terompet dijajakan para pedagang dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 3000-Rp 20 ribu per unit. Mereka berharap, saat perayaan tahun baru nanti dapat panen dengan menjual terompet sebanyak mungkin.

Pantauan di lapangan, para pedagang terompet ini umumnya berkeliling kampung dengan menggunakan sepeda. Tak sedikit juga di antara mereka yang lebih memilih dengan cara mangkal di tempat-tempat strategis seperti di perempatan jalan, pasar, pertokoan, dan sebagainya. Pedagang juga banyak mangkal di sepanjang Jl Boulevard Raya Kelapagading, Jl Plumpang Raya, Jl Tipar Cakung, dan Jl Pluit Raya. Mereka lebih memilih untuk mangkal di atas trotoar.

Ujang (41), satu pedagang terompet di Jl Boulevard Raya Kelapagading, mengaku, setiap tahunnya tidak mau ketinggalan menjual terompet di kawasan elite Jakarta Utara itu. Terutama saat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, dagangan yang ditawarkan selalu laku terjual. “Tahun lalu keuntungan saya dapat lumayan, sekitar Rp 3 juta-an. Sedangkan waktu hari Natal kemarin omzetnya mencapai Rp 1 juta. Ya, karena konsumen di lokasi ini merupakan warga tergolong mampu, sehingga tidak ada yang menawar kalau beli terompet,” ujar pria yang kesehariannya berjualan mainan anak-anak ini.

Para pedagang membeli terompet langsung dari para perajin di kawasan Tanjungpriok. Setiap tahun ia biasa berjualan terompet di Jl Boulevard Raya Kelapagading, karena konsumennya sangat banyak, walau persaingan di kawasan tersebut cukup ketat. Yang menyenangkan, pihak pengelola kawasan PT Summarecon Tbk tidak melarangnya sehingga mereka leluasa berjualan. “Biasanya sih dilarang sama satpam, tapi ketika momen tahun baru seperti ini tidak ada razia,” jelasnya, Kamis (31/12).

Hal serupa juga diungkapkan Andre (35) pedagang terompet lainnya yang berdagang di Jl Plumpang Raya. Ia mengaku, penjualan terompet masih normal belum ada peningkatan. “Tapi biasanya nanti malam dan besok baru banyak pembelinya,” ujarnya.

Jika di tempat-tempat umum harga terompet antara Rp 3000–Rp 20 ribu, maka di kawasan Kelapagading dan Pantai Indah Kapuk harganya lebih tinggi, yakni Rp 10 ribu–Rp 50 ribu per unit. “Harga terompet tergantung dengan lokasi penjualan. Kalau daerah Kelapagading dan Pluit, kami bisa memasang harga di atas Rp 10 ribu, itu pun terompet yang dijual harus bagus,” katanya.

Kanjani (30), perajin terompet di Jl Warakas 21 RT 8/5, Papanggo, Tanjungpriok, mengungkapkan, sejak November 2009 telah mulai membuat terompet yang akan dijajakan pada Natal dan malam perayaan Tahun Baru 2010. Dengan dibantu 30 anak buahnya, pria yang sejak tahun 1997 ini membuat terompet sudah berhasil membuat 20 ribu terompet. “Saya berlajar membuat terompet ini dari paman,” ujar pria yang akrab disapa Jani ini.

Terompet yang dibuatnya pun terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk. Terompet terkecil yang dibuat Jani memiliki panjang 40 sentimeter. Sedangkan yang paling besar sepanjang 1,5 meter, dengan ujung terompet berdiameter 30 sentimeter. “Yang paling kecil, kami jual dengan harga Rp 3.000. Sedangkan yang paling besar seharga Rp 10 ribu,” tuturnya. Jani membebaskan kepada pedagang untuk menjual dengan harga yang mereka kehendaki.

Setiap hari, sedikitnya ada 50 pedagang terompet keliling yang menjajakan terompet milik Jani. Untuk membuat ribuan terompet, Jani memasok bahan-bahan baku dari Cirebon, Jawa Barat. Sebanyak dua kwintal karton bekas, 30 kilogram kertas Prada Mas, 20 kilogram kertas Metalic Hollogram, serta 20 gross (1 gross = 12 lusin-red) pangkal terompet yang terbuat dari plastik dan berbentuk seperti corong atau biasa disebut dengan molding. “Modal saya tahun ini Rp 6 juta,” bebernya. Meskipun begitu, Jani enggan menyebutkan nilai nominal keuntungannya.

Terompet buatan Jani cukup beragam, meskipun masih banyak berbentuk umum, dengan tangkai terimpet lurus seperti pipa dan pada bagian ujungnya berbetuk seperti corong. Bentuk-bentuk baru yang dibuat Jani, antara lain bentuk naga, kupu-kupu, udang dan ikan terbang. “Model ikan terbang, biasa kami sebut dengan terompet Indosiar (logo stasiun televisi Indosiar adalah ikan terbang-red),” terangnya.

Jani menjelaskan, ia menerapkan sistem penjualan “beli-putus”. Maksudnya adalah, para pedagang harus membayar di muka saat akan mengambil terompet darinya. “Bila lebih, pedagang tidak bisa mengembalikannya dan uangnya tidak kami kembalikan,” ucapnya.

Ia berharap, menjelang dan saat perayaan akhir tahun kali ini Jakarta tidak diguyur hujan. Sebab jika hujan maka pedagang yang mengambil terompet darinya akan kesulitan untuk menjualnya kembali. “Saya berharap, kalau pedagang keliling bisa menjual habis. Mereka akan mengambil lagi ke saya, soalnya kalau sudah habis tahun baru penjualan akan menurun, karena puncaknya ya ketika pergantian tahun itu,” harap pria yang kesehariannya menjual mainan anak-anak ini.(red/*bj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails